Sabtu, 19 Januari 2019

magnet politik ulama


Magnet Politik Ulama
            Dua ribu delapan belas disebut-sebut sebagai tahun politik yang penuh dengan berbagai problematika di dalamnya. Antara satu kelompok dengan kelompok yang lain saling mendeklarasi suara. Ada yang mengkampanyekan pergantian presiden dan ada yang mengkampanyekan agar pemimpin orde ini tetap bertahan. Namun tak dapat dipungkiri bahwasanya ada kalangan yang malah enggan untuk ikut dan masuk dalam ranah politik indonesia saat ini, mungkin karena pusingnya melihat carut marut dunia perpolitikan serta tatanan yang ada di dalamnya. Dunia politik rasanya tidak pernah sepi dari berbagai macam permasalahan yang tersorot di tengah masyarakat, ataupun yang tersirat di dalamnya.
            Bukan hanya di dunia nyata saja, di zaman globalisasi yang teknologi komunikasi di dalamnya berkembang sangat cepat, kita menemukan banyak narasi yang dibuat oleh banyak kalangan yang mengadu antara dua kubu, sehingga tak jarang semua itu mengakibatkan perselisihan, chaos, dan persekusi. Kini narasi-narasi yang seharusnya bisa membuat suatu pola pemikiran yang positif  telah berubah  menjadi sebuah racun pikiran bagi rakyat yang membaca. Sehingga ungkapan bahwa politik adalah perang tanpa senjata memang telah nyata adanya.
Ulama dan Politik
         Ulama memiliki peran yang besar dalam berbagai peristiwa  sejarah. Mereka adalah pemimpin yang memiliki tugas mulia. Membimbing, mengayomi, dan mengarahkan umat baik dalam permasalahan keagamaan hingga permasalahan sosial kemasyarakatan. Posisi inti seorang ulama ialah sebagai warosatul anbiya'  yakni pewaris para nabi dalam hal keilmuaan dan juga kiprah dakwah.
           Apabila kita menelaah sejarah kembali, nyaris tidak ada satupun perubahan dunia yang tidak melibatkan para ulama. Membahas mengenai sejarah berdirinya Indonesia pun juga tidak lepas dari campur tangan dan perjuangan seorang ulama. Mulai dari upaya memperjuangkan kemerdekaan dari penjajahan sampai dengan perumusan berdirinya NKRI. Selain berkiprah di bidang agama ulama pun juga berpartisipasi dalam bidang sosial, pendididkan, dan pembentukkan karakter masyarakat, termasuk dalam dunia politik. Bahkan ulama pun tidak bisa dipisahkan dengan politik seperti dua sisi mata uang. Dunia akan terasa gelap dan hilang arah apabila ulama tidak hadir dalam dunia politik. Karena ulama adalah penyampai politik yang benar kepada umat.                   
         Sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW dalam mengurus urusan rakyatnya mengangkat Mu’aqib bin Abi Fathimah sebagai dirjen urusan ghanimah, Zubair bin al-Awwam ditunjuk sebagai dirjen urusan harta shadaqat, Syarahbil bin Hasan sebagai dirjen urusan luar negeri. Pengurusan rakyat yang dicontohkan Rasulullah tidak akan diketahui rakyat kecuali hadirnya peran ulama. Jelas sudah, bahwa umat dan negara sangat butuh peran ulama.
Bersanding bersama Penguasa
       Dengan kondisi politik yang sedang fluktuatif seperti sekarang ini,  pertanyaan mengenai bolehkah bagi seorang ulama untuk duduk bersanding bersama penguasa di ranah politik selalu menjadi perbincangan tanpa henti, baik di kalangan ulama sendiri ataupun mereka yang terjun dalam dunia politik.
         Imam ibnul jauzi mengatakan dalam kitabnya tablis iblis, "dan diantara tipu daya iblis kepada para fuqaha' adalah bergabung dengan para umara' dan penguasa, lemah lembut kepada mereka dan membiarkan kemungkaran atas mereka padahal mampu untuk mencegahnya".
           Sehingga yang menjadi titik tekan disini adalah sebuah pertanyaan, model penguasa bagaimana yang boleh bersanding bersama ulama? Apakah dia adalah penguasa yang adil dalam segala sisi kepemimpinannya? Apakah dia adalah seorang penguasa yang menegakkan syariat islam dalam tatanan kepemimpinannya? Adapun penguasa yang semacam ini maka tidak ada perselisihan di antara ulama atas kebolehannya, dalam artian seorang ulama boleh duduk dan bersanding bersama penguasa tersebut. Karena ini bagian dari tolong menolong dalam kebaikan atau ta'awanu 'alal birri wa taqwa. Mereka akan saling bekerja sama dalam menegakkan keadilan dan mengarahkan umat kepada syariat islam. Dan sebaliknya, penguasa yang tidak adil alias dzolim, berbuat semena-mena, bahkan menolak syariat islam, maka haram bagi seorang ulama untuk berjumpa, tatap muka, kumpul, dan duduk bersamanya.
          Ibnu qoyyim al jauziyyah mengatakan, masuk istana penguasa dan duduk bersanding bersamanya merupakan bahaya yang sangat besar bagi seorang ulama. Bisa jadi niat awalnya adalah baik, namun setelah keluar dari istana ia berubah karena telah mendapatkan perlakuan yang baik dan dihormati, bahkan diberi hadiah dan kedudukan. Sebagaimana perkataan Imam Sufyan Ats-Tsauri "bukan perlakuan buruk mereka yang aku takutkan, tapi perlakuan baik mereka yang aku takuti sehingga hatiku akan condong kepada mereka".
Harapan yang Hilang
                 Keengganan para ulama untuk masuk kedalam sisitem politik yang ada, bukanlah sebuah gambaran bahwasannya mereka tidak berpolitik atau menganggap islam terpisah dengan politik. Semua ulama tetaplah berpolitik meskipun tidak memasuki arena politik praktis atau dengan kata lain duduk bersanding bersama penguasa. Sehingga perkataan dan perbuatannya hanya untuk menegakkan kebenaran (iqomatuddin) dimanapun dan kapanpun berada. Mereka tidak membela golongan A dan B, tidak juga mendukung kelompok C dan D. Bagi mereka membela kebenaran adalah yang paling utama tanpa melihat siapa yang dibela dan apa yang akan didapatkan. Dengan berperan aktif dalam perbaikan masyarakat, ulama sudah mengambil posisi penting nan strategis dalam berpolitik dalam sebuah negara. Keaktifan tersebut bisa menjadi senjata ampuh bagi ulama  untuk mengubah jalannya pemerintahan yang masih terdapat banyak kekurangan dan penyimpangan.
Namun fakta yang terjadi, ketika sistem  politik modern hari ini masih banyak yang mal-praktik karena terlahir dari sistem aturan demokrasi-kapitalis yang kontra dengan Islam, terkadang ada pihak yang memanfaatkan ketokohan para ulama untuk kepentingan kekuasaannya, baik oleh partai politik maupun pemerintahan yang sedang berkuasa. Maka dengan kondisi tersebut sangat mungkin posisi ulama akan mudah masuk angin atau diadu domba dengan berbagai kepentingan para rezim penguasa, sehingga  munculah fenomena "ulama tertarik magnet politik". Apalagi yang sangat disayangkan ketika para ulama ikutan terlibat bahkan di garis terdepan, dengan dalih dan hujjah memperbaiki sistem tersebut. Ini menjadi persoalan tersendiri yang mengundang banyak kontroversi. Ibarat seorang petinju yang memasuki ring pertandingan, yang dia pikirkan hanyalah bagaimana caranya memenangkan pertandingan dan mengalahkan lawan yang ada di hadapannya. Arena politik juga demikian, setiap yag memasukinya akan berpikir bagaimana cara memenangkan suara rakyat, dia akan berusaha untuk menang dan berkampanye kemana-mana.
Maka sebaiknya para ulama senantiasa menjaga jarak dengan penguasa agar mereka tetap bisa menjadi sandaran ketika para penguasa mulai menyimpang. Kebijakan-kebijakanya mendatangkan mafsadat dan ketika masyarakat dirasa jauh dari agama. Dalam situasi paling ekstrem para ulama tersebut mampu dan tak segan untuk memperbaiki kondisi tersebut. Wallahu a'lam bishshawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hanya diam membisu Ma’had Aly Hidayaturrahman, jum’at yang semoga penuh barokah, 26 juli 2019 M           Miris….. entah bagai...