Kamis, 25 Juli 2019




Hanya diam membisu

Ma’had Aly Hidayaturrahman, jum’at yang semoga penuh barokah, 26 juli 2019 M
          Miris….. entah bagaimana dan dengan apa saya bisa menggambarkan perasaan yang kini dirasakan setelah beberapa detik tadi menonton sebuah video pendek yang menggores hati.
Kaum muslimin Uyghur di China….. keadaan mereka, sungguh membuat kaum muslimin yang merasa sangat bersedih dan ikut turut merasakan betapa sakit dan perih derita yang dialami oleh mereka. Hingga kini, ratuan kaum muslimin ditahan disebuah camp yang mereka beri nama camp konsentrasi. Yang dibangun diatas tanah daerah mereka. baik laki-laki dan perempuan perlakuan mereka sama. Sangat sangat bejat dan tidak memiliki kemanusiaan sama sekali. Di camp tersebut mereka didoktrin dengan ajaran dan paham komunisme. Para muslimin Uyghur dicuci otak mereka dengan paham para chinnes. para pasukan china dengan pemaksaan keras mencoba menghilang islam dari kehidupan dan pikiran kaum muslimin. tidak ada lagi Alloh, keimanan, taqwa, tauhid, didalam diri mereka. ini benar benar menjadi kondisi yang memecahkan jiwa seorang muslim. Dan semua itu tak lekang dari siksa dan kebiadaan para musuh musuh Alloh.
          Dan hal yang lebih membuat hati dan jiwa meronta ronta adalah tatkala para pemimpin pemimpin Islam hanya diam dan menutup mata. Seakan akan tidak ada suatu masalah yang terjadi. Tatkala diundang bertemu dengan presiden xi jinping, para pemimpin-pemimpin dari negara yang mayoritas warga negara nya islam, berjabat tangan dengan mesra dan damai. Sungguh menyayat hati. Tatkala presiden Erdogan ditanya tentang keadaan muslim Uyghur, beliau mengatakan tidak ada masalah apapun yang menimpa mereka. presiden Pakistan, satu satunya negara islam yang memiliki senjata nuklir, tidak berkuti apapun mengenai muslim Uyghur, dan demikian juga pemimpin malaysa, arab Saudi, kazakhtan bahkan Indonesia. Mereka tidak melakukan statement apapun untuk menuntut atau melakukan pembelaan terhadap muslim Uyghur. Bahkan mengirinkan surat dukungan atas kebijakan yang china lakukan untuk melawan terorisme di dunia.
Miris sekali…… namun inilah nyatanya.
Silahkan tanyakan pada hati kecil kita masing-masing apa yang harus kita lakukan…..
Hasbunallloh wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashir…………
          Sehamparsinaranmentari,,,,

Sabtu, 13 Juli 2019



Sang pejuang
Ma’had Aly Hidayaturrahman, Pilang, Masaran, Sragen, Jawa Tengah
Ditengah hamparan gelap yang berhias terang nya ribuan butir bintang diujung sana membuat malam ini serasa begitu syahdu. Iya….. benar-benar syahdu dirasa dan dipanca indraku. Entah hanya aku yang merasakan atau begitu juga dengan beberapa orang lain…. Entahlah, namun yang pasti aku ingin mengatakan “malam ini berbeda dari malam-malam biasanya”…. Well… karena menjadikan suasana hati ini lebih baik,, aku putuskan untuk menuliskan setidaknya beberapa ratus karakter kata yang akan menjadi tulisan sederhana.
Saya jadi teringat dengan perkataan seorang dosen tempo lalu, yang mengatakan dengan cara khasnya, “remaja itu bisa diibaratkan seperti matahari pada pukul 12 siang, sangat terik, sangat panas, sangat menyengat, sangat panas, dan sangat silau”. Jadi maknanya pada masa itulah baik semangat, keingianan, dan juga ghirah dari seseorang itu melejit, pada masa yang disebut masa remaja. Masa yang datangnya hanya satu kali dalam kehidupan manusia. Pada fase itu seseorang akan gigih mencari jati dirinya. Membuat sesuatu yang akan menjadi history besar dalam hidupnya, mengukir sejarah atau bahkan peradaban yang sangat besar. Yah….memang seharusnya seperti itulah remaja. Bagaimana tidak, para sahabat Rasululloh yang telah berhasil menjadi teladan. Bagaimana seorang remaja belasan tahun sangat akrab dengan PENGORBANAN, dengan diri mereka, mereka turun ke medan jihad untuk mengikuti perang melawan musuh islam, memimpin ribuan pasukan, menjadi panglima muda yang mengomando setiap gerakan, dan begitu banyak para ulama, mujtahid, mufti, muhaddits, mufassir yang menjadi cendekiawan muda diusia remaja, padahal kondisi pada saat itu begitu sulit. Malu? Iya….memang seharusnya kita merasa malu akan kondisi yang tampak nyata didepan mata kita saat ini. Kita sangat jauh dari gambaran para salaf. Lantas pertanyaan, LIMADZA??
Apa kita hanya tertegun mendengar kisah para figure heroik islam? Mana para penerus Muhammad Al-Fatih yang mampu menaklukkan konstatinopel pada usia 21 tahun, mana pejuang sebagaimana shalahuddin Al-Ayubi sang penakluk Baitul maqdis, mana Thariq bin Ziyad pemuda hebat penakluk Andalusia???????? Mana ruh perjuangan mereka yang seharusnya tertanam dalam diri kita??
So,,,,,,tunggu apalagi?

Hanya diam membisu Ma’had Aly Hidayaturrahman, jum’at yang semoga penuh barokah, 26 juli 2019 M           Miris….. entah bagai...